| Internet Troll |
Mengelola social media untuk suatu brand membutuhkan kesabaran. Disana kita menempatkan diri sebagai duta brand yang harus berusaha untuk menciptakan citra yang baik bagi perusahaan yang kita naungi. Namun tetapi kita juga harus menempatkan diri sebagai mediator bagi publik untuk menyampaikan aspirasinya.
Setiap pesan yang masuk harus dimonitor, dicatat, dan bila perlu direspon secepatnya. Kadang berupa pujian, kadang berupa kritikan, dan kadang tidak berarti apa-apa, hanya mencoba berinteraksi.
Yang terakhir itulah yang saya anggap sebagai Internet Troll.
Internet Troll mungkin hanya berusaha mengganggu (mem-bully) Anda. Berusaha untuk mencari perhatian dan respon Anda. Namun uniknya, secara harfiah mereka akan benar-benar mendapatkan perhatian Anda. Pengalaman saya adalah mereka itu biasanya akan menjelek-jelekkan brand Anda tanpa disertai fakta dan informasi yang jelas, tentunya setelah kita melakukan klarifikasi atau merespon lebih lanjut.
Kalau saya, ketika mendapati suspek Internet Troll saya akan memeriksa bio atau profil si pengirim pesan. Bila dirasa kredibilitasnya diragukan dapat kita pilah sebagai Internet Troll. Namun bila hal tersebut tidak cukup Anda dapat memeriksa timeline-nya apakah orang tersebut sering mengirimkan pesan-pesan sejenis. Terakhir, ketika kedua hal tersebut dianggap masih "lulus" sampaikan permohonan maaf dan apresiasi atas pesan yang disampaikan disertai dengan klarifikasi atau permohonan info lebih lengkap atas masalah yang disampaikan. Dan saat responnya tidak tulus, maka saat itu sebagai administratur dapat memutuskan untuk menghentikan asistensinya.
Tentang Internet Troll ternyata sudah menjadi bahan pemikiran seorang ahli filosofi Denmark di abad ke-19. Yaitu Søren Kierkegaard (1813 - 1855). Kierkegaard mengatakan:
Ada bentuk rasa iri yang saya sering lihat, di mana seorang individu mencoba untuk mendapatkan sesuatu dengan cara mengintimidasi. Jika misalnya, saya masuk ke tempat di mana banyak orang berkumpul, sering terjadi bahwa satu orang atau yang lain segera mengambil senjata melawan saya dengan cara mulai tertawa; mungkin dia merasa bahwa dia menjadi alat opini publik. Tapi lihatlah, jika saya kemudian menanggapinya, dia akan menjadi luruh dan mendukung. Pada dasarnya hal itu menunjukkan bahwa dia menganggap saya sebagai seseorang yang disanjungi, bahkan mungkin menjadi orang yang terhormat dari saya sebenarnya, tetapi jika dia tidak dapat diterima sebagai peserta dalam kebesaran saya tersebut, setidaknya dia akan menertawakan saya. Tapi begitu ia menjadi peserta, karena itu, ia sesumbar tentang kehebatan saya.Jadi kita harus baik-baik menyingkapi Internet Troll. Tidak untuk terlalu cepat merespon, namun tidak terlalu lama untuk memutuskan untuk meninggalkannya.
Itulah apa yang datang dari hidup dalam komunitas kecil.
Semoga bermanfaat.